Fasisme (fasicsm) berasal dari bahasa Italia fascio yang diambil dari bahasa Latin fasces, yang berarti seikat batang kayu, di mana dalam budaya romawi kuno telah dipergunakan sebagai simbol kekuatan, suatu kekuatan ikatan yang menyatu. Fascio juga merupakan simbol dari pengabdian loyalitas, pengakuan dan kepatuhan atas otoritas negara sebagai sumber dari segala sumber hukum dan kepatuhan terhadap pemerintah dalam semua aspek kehidupan nasional.
Fasisme, mengingatkan kita pada era kejayaan Hitler dan Mussolini di Eropa pasca Perang Dunia (PD) I. Opini yang berkembang, memandang dari satu sudut pandang, kekejaman rezim otoriter fasis. Tentunya, sejarah perlu pembuktian ulang dengan berbagai referensi sebagai kesimpulan akhir. Lihatlah, pernyataan Presiden Iran, Ahmadinejad, yang menyatakan PD II sebagai hasil konspirasi Zionis, Israel. Baca juga keterlibatan keluarga dinasti Bush Senior dalam penjualan senjata ke Jerman pada era PD II dalam buku The Bush Gang. Patut direnungkan kembali.
Memang, kekejaman Nazi sangat membekas sampai saat ini, terutama keluarga-keluarga yang menjadi korban. Pada satu hari, seorang kawan mengantarkan seorang pelajar yang berasal dari Jerman di kawasan Malioboro, Yogyakarta. Ketika melihat sehelai syal bercorak swastika ala simbol Nazi yang dijual pedagang asongan di tepi jalan, ia terlihat sangat gugup dan takut. Bahkan, saking takutnya, sampai saat ini pria berusia 25 tahun itu enggan kembali ke Malioboro.
“Dia trauma dengan kejadian yang terjadi di Negaranya, yang juga menimpa keluarganya pada era PD II,” jelas seorang kawan perempuan yang suatu hari menceritakan peristiwa itu.
Korban akibat PD II diperkirakan sekitar delapan juta manusia. Namun, jumlah itu dianggap sebagai mitos oleh Presiden Iran saat ini. Dalam satu buku Bahaya Zionis juga mengemukakan bahwa PD II juga sebagai propaganda Yahudi untuk mendirikan negara Israel di Palestina. Zionis, merupakan satu organisasi minoritas bangsa Yahudi, yang dibentuk Theodore Herzl.
Sisi lain Fasis
Tidak dapat dipungkiri, PD II, merupakan bencana manusia terbesar dalam sejarah umat manusia sampai saat ini, baik dari jumlah korban, banyaknya Negara yang terlibat, maupun kehancuran sebagian besar daratan Eropa dan Asia.
Namun, jangan menutup mata, jika rezim fasis pada awalnya, berhasil mensejahterakan sebagian besar rakyatnya. Dari keterpurukan ekonomi, perebutan kekuasaan politik, sampai pada kepercayaan diri untuk bangkit. Sentralisasi pemimpin, berimplikasi pada satu konsolidasi keyakinan. Jerman yang kalah pada PD I, memiliki tingkat inflasi yang sangat tinggi pada saat itu, sekitar 600 persen dibanding pada 1913. Bahkan, satu dollar Amerika dihargai hingga 400.000 juta Marks (Buku Fasis, karya Hugh Purcel).
Dalam bidang teknologi, PD II, menjadi pemicu revolusi teknologi besar-besaran, khususnya dalam bidang militer. Sebut saja, dari alat kode elektrik Jerman yang bernama Enigma, sampai pada peralatan artileri, pesawat Stuka, dan Tank. Bahkan, konon, Jerman adalah penemu dari persenjataan bertenaga nuklir yang menjadi perdebataan saat ini. Tentu saja, penemuan senjata itu dikembangkan Negara pemenang perang, Amerika Serikat.
Konstelasi politik internasional pun mengalami banyak pergeseran pasca PD II. Gagalnya peran Liga Bangsa-Bangsa dalam menghindari terjadinya perang membuat berbagai pakar politik, meubah menjadi Perserikatan Bangsa-Bangsa dengan perombakan diberbagai instrumen politiknya.
Lahirnya ekonomi politik internasional pun karena PD II. Keduanya, sangat berkorelasi dalam hubungan bilateral maupun hubungan multirateral antar Negara Bangsa.
Peristiwa PD II dijelaskan secara detail dalam Perang Eropa, karya PK Ojong. Buku yang terbit hingga jilid ketiga itu lebih bercerita tentang kronologi perang, dalam lingkup militer.
1 komentar:
"Pada satu hari, seorang kawan mengantarkan seorang pelajar yang berasal dari Jerman di kawasan Malioboro, Yogyakarta. Ketika melihat sehelai syal bercorak swastika ala simbol Nazi yang dijual pedagang asongan di tepi jalan, ia terlihat sangat gugup dan takut. Bahkan, saking takutnya, sampai saat ini pria berusia 25 tahun itu enggan kembali ke Malioboro.
“Dia trauma dengan kejadian yang terjadi di Negaranya, yang juga menimpa keluarganya pada era PD II,” jelas seorang kawan perempuan yang suatu hari menceritakan peristiwa itu." --> it wasn't me, was it? coz thats not the way i told about it.....
Posting Komentar