Welcome to The Psycho...

"Aku bukan komunis, bukan pula humanis. Aku adalah segalanya, mengungkapkannya dengan menyusun kata per kata.."

18 Mei 2008

Meningkatkan Kompetensi SDM dalam Era Baru

Salah satu esensi dasar dari kemajuan suatu bangsa dan negara adalah tersedianya sumber daya manusia yang memiliki kompetensi dalam segala bidang. Tentu saja terdapat penekanan pada studi masing-masing yang dimaksudkan agar penguasaan materi yang matang. Terdapat banyak negara yang patut dijadikan contoh mengenai hal ini, baik negara yang sudah maju seperti Amerika Serikat dan Eropa, maupun negara-negara yang sedang berkembang seperti Singapura dan Malaysia.
Negara-negara tersebut mampu mengelola sebuah peradaban bagi komunitas bangsanya sendiri untuk mengeksplorasi sumber daya manusia mereka secara maksimal dengan menciptakan sebuah budaya yang menekankan pada nilai-nilai studi dari manusia itu lahir hingga dalam jenjang menghadapi dunia nyata yang penuh dengan persaingan ketat terutama pada era yang disebut dengan globalisasi. Sosial masyarakat (civil society) dipersilahkan dengan bebas untuk mendalami ilmu pengetahuan seluas-luasnya karena secara langsung maupun tidak terdapat dependensi negara dalam menciptakan sebuah negara yang maju dalam berbagai bidang. Salah satu upaya negara dalam hal ini adalah penyedia infrastruktur pendidikan memberikan kemudahan bagi generasinya untuk mencapai hal tersebut, seperti biaya pendidikan yang relatif rendah atau bahkan tidak dipungut biaya sama sekali! Bahkan terkadang negara akan memberikan dan membiayai fasilitas bagi generasinya yang berprestasi dan memiliki orientasi yang jelas.
Sarana pendidikan merupakan sub bagian yang paling penting dalam penciptaan sumber daya yang berkompetensi dalam suatu negara. Komersialisasi pendidikan bukan dalam menuntut ilmu, tetapi lebih prioritas memberi kontribusi bagi komersial pasca terciptanya sebuah penemuan baru dalam pendidikan. Karena individu memiliki hak untuk mengenyam pendidikan maka sepatutnya pendidikan adalah sesuatu yang dapat dinikmati oleh seluruh kalangan tanpa membedakan dari segi finansial, kecuali tingkatan kualitas pendidikan.
Faktor paling penting dari penciptaan ilmu pengetahuan adalah kesadaran individu untuk menjadi ‘sesuatu’ yang lebih baik dan tersedianya sarana yang memadai. Namun, kedua hal tersebut sangat minim dimiliki Indonesia. Kemajemukan dan banyaknya jumlah penduduk tidak seimbang dengan pendidikan yang didapat. Mahal dan terus meningkatnya biaya pendidikan dari tahun ke tahun membuat pendidikan baik dari tingkat kanak-kanak hingga perguruan tinggi hanya mampu dirasakan oleh mereka yang berduit, atau paling tidak orang yang berkecukupan harus terus dibebani hutang yang menumpuk ketika harus memasuki masa waktu registrasi.
Ironisnya, sebagian besar kalangan-kalangan mampu tadi hanya sebatas mencari status dan hanya mengabaikan pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan secara universal. Hal ini sangat bertentangan dengan mereka yang memiliki niat untuk mengenyam pendidikan dengan sungguh dan terkadang memiliki kompetensi diatas rata-rata namun tidak mampu dalam segi financial. Mereka terkadang hanya duduk diatas bangku sembari menjual dagangan makanan kecil mereka. Ini adalah sebuah gambaran sebagian kecil mengenai sebuah sistem yang mengatur pendidikan di Indonesia yang tidak lepas dari kontribusi negara lain terutama Amerika Serikat dalam menerapkan agenda SAP (structure adjustment program) yang mengurangi subsidi negara dalam bidang pendidikan.
Dalam konteks global, memiliki implikasi terhadap eksistensi dan bargaining bangsa Indonesia dalam dunia internasional. Dasawarsa ini peran Indonesia tidak mendapatkan perhitungan dalam politik internasional sebagai negara yang memiliki kekuatan atas bangsanya sendiri, seperti kekuasaan yang didefinisikan Plato sebagai penguasaan atas ilmu pengetahuan yang tidak dimiliki Indonesia saat ini. Konstelasi arah bangsa Indonesia kini semakin tidak jelas. Tuntutan rakyat akan subsidi pendidikan 20% dari APBN belum terwujud, bangsa Indonesia menantikan seseorang yang pemberani dan benar-benar menyuarakan apa yang dikehendak oleh sebagian besar rakyat demi kesejahteraan bersama.

Tidak ada komentar: