Welcome to The Psycho...

"Aku bukan komunis, bukan pula humanis. Aku adalah segalanya, mengungkapkannya dengan menyusun kata per kata.."

07 November 2012

Kebohongan

SEPERTINYA, saya terperangkap dalam beragam fakta yang disajikan. Stigma dan skeptis menjadi tidak terkendali. Pernyataan yang tidak sesuai, seolah menjadi penegasan tentang kebohongan yang mendapatkan legitimasi. Entah, apa yang ada dalam pikiran mereka, pada saat berhadapan dengan jutaan manusia melalui layar kaca, atau tulisan di media cetak.

Implikasinya, berujung pada apatisme. Kami tidak bodoh, untuk kemudian percaya dengan pernyataan-pernyataan kemunafikan. Tapi inilah dunia, dengan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi. Konsistensi manusia hanya terletak pada inkonsistensinya. Bisakah kita berpikir sejenak, menggunakan hati nurani. Bukan berorientasi pada kepentingan lainnya.

Perangkap itu semakin menampakkan eksistensinya. Berteriak keras, tampaknya percuma dan dianggap sekadar beretorika. Diam pun, dianggap tak becus menjadi manusia yang memiliki rasa iba. Tapi, pada hakikatnya semua dihadapkan pada kondisi untuk memilih dan memilah. Saya memilih diam, dengan segala konsekuensinya.

Dalam artikel di sebuah majalah mingguan, seorang penulis terkenal melukiskan kata pembuka. “Tak mudah mengatakan apa itu keadilan, tapi tentang ketidakadilan orang dapat mengenalinya dengan seketika…” Kata ini menjadi pembenaran sekaligus penegasan atas pilihan saya tadi.

Namun, pada satu titik, perangkap itu tidak boleh terlalu lama menyebarkan distorsinya. Saya harus melakukan sesuatu untuk mendobraknya. Biarlah, dalam keadaan diam ini, saya merekonstruksi fondasi sistematika berpikir. Selain diam, tentu saya ingin menyaksikan arena dagelan yang selama ini telah mengubah persepsi secara umum.

Perjalanan itu memang terdengar begitu meletihkan tenaga dan pikiran. Hasilnya pun seolah tak terdengar, dan terkesan sia-sia. Tapi percayalah, dari cerita, sebenarnya mereka merasakan kehadiran kita yang bersuara tanpa suara. Fiuh.. saya merasa lega mengetahuinya. Mereka adalah orang-orang yang muak menyaksikan dan menjadi korban dari kebohongan segelintir manusia.

Stigma dan skeptis memang memunculkan pemikiran baru. Memang, rasa keingintahuan tinggi. Namun, tanpa didasari fondasi yang kokoh, rasa itu bisa dibilang percuma. Sekadar berada pada tataran permukaan dan cenderung lemah. Sampai sekarang pun, saya hanya mampu menunggu membongkar perangkap itu.. Berkarya, tak boleh berhenti..

Tidak ada komentar: