JELANG dini hari, terbangun. Selasa, 13 Maret 2012. Padahal, sekujur tubuh, khususnya punggung, nyeri rasa. Temperatur badan pun meninggi. Cuaca beberapa hari ini begitu dingin, dengan angin lumayan kencang. Jamper tebal, kaus kaki, dan selimut, tidak mampu menahan angin dingin tersebut.Sebulan ini, aku juga berjuang dari serangan distorsi yang bertubi-tubi. Tanpa ampun! Akhirnya, pagi tadi jasad ini menyerah sesaat. Aku harus menerimanya, dan enggan melakukan perlawanan. Karena aku harus menjadi lebih baik.
Beberapa hari lalu, seorang kawan lama di Jakarta, menyarankan untuk membeli tiga buku. Dia berharap, dengan membaca buku itu, membuka sedikit pemikiran lainnya dan menyingkirkan paradigma usang. Padahal, fondasi berpikir selama ini berbenturan dengan tiga buku tadi.
Selain itu, seorang kawan tadi juga memberi nasihat untuk jujur kepada diri sendiri. Aku selalu mencari kawan ini kalau sedang mengalami disorientasi. Dia lebih dari sekadar seorang sahabat.
Aku pun membeli satu buku rekomendasi dari kawan. Sedangkan yang satunya, buku yang sedikit memberikan pencerahan akan pentingnya peran otak kanan dibandingkan otak kiri. Yaitu, semua mimpi sangat mungkin diwujudkan!
Buku Pilar-pilar Filsafat karangan Frans Magniz Susesno, masih terlantar. Aku membeli buku ini, dengan dua buku penuntun agama, tiga hari sebelum membeli buku rekomendasi teman tadi. Aku memprioritaskan dua buku baru, tentu dengan ekspektasi membuka pemikiran baru.
Satu buku rampung dalam dua hari. Buku ini, memberikan pencerahan mendasar. Selain itu, menuntut tindakan lebih konkret. Sedangkan satunya lagi, masih tersisa ratusan halaman. Waktu, yang membuat aku sedikit mengacuhkannya.
Secara eksplisit, dua buku ini bukan hal baru. Namun, aku seringkali menolaknya karena sekadar omong kosong! Tapi, kali ini aku tunduk. Paradigma usang memang kudu dibuang. Aku harus meng-upgrade secara fundamental kerangka berpikir ini. Walaupun sistematis, tapi justru mengekang dalam stagnasi. Sekadar berbuat seadanya.
Yah, memasukkan pikiran asing tidak mudah. Dogmatisme masih merayap. Aku masih meraba pada tataran permukaan. Apalagi, hanya bayangan yang bisa diajak berdialektika pada saat ini. Aku baru mampu mengerti. Belum memahaminya.
Rekonstruksi berpikir secara intelektualitas sedang berproses. Permasalahan yang menghambat, hanya satu. Dia!. Dini hari ini, wajahnya masih bermain dalam fantasi. Abstraksinya masuk terlalu dalam. Dan ini, bukan merupakan kesalahan siapapun! Kalaupun menyayanginya merupakan suatu kesalahan, biarkan aku merasa bersalah!
Tuhan mempertemukan kami pada suatu malam pada November 2011, di sebuah stasiun. Dan kemudian, aku menganggap hubungan kami begitu dekat. Namun, penegasan. Hubungan kami sekadar teman dekat! Penegasan itu, sebagai antisipasi ruang bagi terbentuknya persepsi lain.
Tanpa adanya penegasan itu, anomali sudah menyapa di awal. Dan aku, ataupun kami misalnya, tidak mungkin melakukan perlawanan anomali yang kejam!
Kedekatan itu, menimbulkan persepsi lain walaupun sudah ada eksistensi penegasan. Entahlah. Dia lebih memilih beranjak meninggalkan kedekatan itu. Sudah dua hari ini, sekadar menyapa singkat. Sebenarnya, aku sedikit marah pada satu hal. Tapi biarlah, itu menjadi urusan masing-masing. Toh, aku tetap sayang. Apalagi semalam, dia hadir dalam mimpi. Sungguh, indah!
Ikhtiar mungkin sudah mencapai puncaknya. Dengan tertawa, anomali berdiri angkuh dalam kekalahan ini. Aku hanya bisa menatapnya dari kejauhan. Maafkan, aku menyayanginya. Dan pada akhirnya, alur penulisan ini terhenti sesaat. Ikhtiar, berharap aku berdoa dalam salat Tahajjud dini hari ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar