DINAMIKA politik kantor, merupakan keniscayaan. Subyektifitas turut andil di dalamnya. Saya yakin, unsur like and dislike pun tidak mampu dilepaskan atau melepaskan dirinya. Sayangnya, seringkali dua unsur itu mengabaikan kompetensi karyawan. Tentu pada akhirnya memilih, ikut dalam sistem, atau kemudian beranjak dari lingkaran tersebut.
Itu pilihan terakhir. Sistem yang terbangun, tidak mudah untuk direkonstruksi. Tanpa power dan tanpa bargaining. "Mau mengubah sistem? Apa yang ada dalam dirimu? Silakan memilih. Kalaupun anda memilih beranjak, toh tidak ada yang akan perduli," ujar saya kepada seorang kawan, yang berada pada tekanan di kantornya.
Pekerjaan itu pilihan. Berikut suasana yang ada di dalam kantor, atau lingkungan di luar. Benar, bekerja kudu berorientasi uang. Namun, tanpa adanya kepuasan ataupun ketidakharmonisan dalam kantor, justru mengaburkan semuanya.
Nyaris setiap hari, saya mendengar atau membaca keluhan sejumlah kawan pada pekerjaanya. Baik itu kawan internal, atau dari pekerjaan apapun. Dalam kondisi tertentu, keluhan dianggap hal yang manusiawi. Tetapi pada saat lainnya, keluhan justru akan berakibat pada kontraproduktif berpikir dan bertindak.
Saya teringat nasihat seorang kawan yang juga atasan. Menurutnya, berpikirlah bahwa pekerjaan itu kita lakukan hanya untuk diri kita. Bukan untuk kantor, apalagi orang lain. Kantor atau orang lain, hanya menjadi dampak dari apa yang kita lakukan.
"Ketika kita melempar bola ke dinding semakin keras, bola itu akan berbalik keras. Begitu juga sebaliknya. Uang itu bukan tujuan. Dia hanya sebagai dampak dari apa yang kita lakukan," katanya mencoba menganalogikan. Kalaupun bola itu berbalik lemah pada saat kita melemparnya keras, berarti ada yang salah. Bobot bola itu berkurang. Sama halnya kualitas kerja yang kita hasilkan.
Ada dua hal paling mendasar untuk mencapai kesuksesan dalam karir pekerjaan. Yang pertama adalah melalui hasil kinerja yang berkualitas. Tentu dengan bekerja keras. Dan yang kedua, adalah dengan cara menjilat. Silakan anda memilih, jalan mana yang kudu ditempuh. Keduanya hanya dibedakan dengan kuantitas waktu. Jangka panjang dan pendek.
Saya pun masih mencoba belajar dalam memahami semuanya. Dari hal yang paling kecil sekalipun. Pandangan manusia manapun, kesuksesan seorang dalam hidup masih berkiblat pada materi. Padahal, kata Immanuel Kant, uang seharusnya menjadi proses. Bukan tujuan.
Kawan lain selalu mengingatkan, agar tidak terjebak dalam kenyamanan. Dia beralasan, kenyamanan akan membuat kreativitas kita mati. Begitu sebaliknya. Jangan menjadikan pekerjaan hanya sebagai loncatan terus menerus. Intinya, fokus terhadap satu bidang, untuk kemudian melakukan beragam inovasi.
Ini adalah teori secara tekstual. Dinamika terus mengalami perubahan. Silakan. Hidup anda adalah pilihan masing-masing. Jangan terpaksa, apalagi memaksa. Satu nasihat yang masih terbayang. Lagi-lagi dari seorang kawan. "Iso rumongso, ojo rumongso iso. Bisa tahu diri, jangan menganggap serba tahu atau bisa," katanya pada obrolan di warung soto di Jogja beberapa waktu lalu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar