FOTO: Deni Denaswara
KAMIS (25/2), tepat pukul 00.00, berada di lokasi longsor di Desa Tenjolaya, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung. Suasana begitu sunyi, dan tidak ada penerangan. Hanya ada sinar bulan, dari separuh penampakkan dirinya. Terlihat mobil berjejer di sepanjang satu kilometer yang mendekati lokasi longsor.
Ada ambulans, truk TNI, mobil para relawan, dan mobil wartawan dari berbagai media nasional dan lokal. Aku memarkir mobil paling ujung, di depan dua mobil bertuliskan sebuah media televisi. Tiga mobil ini hanya berjarak beberapa meter dari lokasi longsor.
Embun pun mulai membatasi pandangan. Kedua kawan yang menemani, langsung tergolek di jok mobil. Aku keluar dari mobil, menuju bangunan SD Dewata, yang digunakan sebagai posko para relawan. Di posko itu, hanya ada dua lampu yang dinyalakan dengan diesel. Di tengah lapangan, terlihat empat pria sedang mengelilingi api unggun.
Aku mendekati mereka. Dua di antaranya adalah personil TNI, sedangkan sisanya adalah para mahasiswa pecinta alam, yang datang untuk membantu melakukan evakuasi. Seorang mahasiswa membuatkan kopi untukku. Kami pun ngobrol. Namun, karena badan begitu letih, aku mengakhiri obrolan itu.
Udara makin dingin. Hanya terdengar sayup-sayup deru mesin diesel. Aku pun beranjak kembali ke mobil, dan langsung tidur di jok sopir. Kaca mobil sudah tertutup embun. Tidak ada peralatan yang memadai untuk menghangatkan badan. Maklum, perintah mendadak dan tidak diberi kesempatan untuk mempersiapkan diri.
Perjalanan menuju lokasi longsor, begitu menantang, kalau bukan dikatakan rusak parah! Menurut petunjuk jalan, jarak dari lokasi longsor ke jalan raya hanya sekitar 28 kilometer. Namun, butuh lebih dari dua jam untuk menuju ke sana.
Jalan yang berkelok di gunung dengan batu sebesar kepala. Sisi kanan jurang, dan sisi kiri adalah tebing yang sewaktu-waktu bisa saja longsor. Beberapa jalur terdiri dari lumpur. Belum lagi sempitnya jalan, yang hanya bisa dilalui satu mobil. Selama dua jam lebih, badan terus tergoncang.
Sekitar pukul 07.00, lokasi perlahan mulai ramai. Para relawan, termasuk personil kepolisian dan TNI sudah menuju lokasi untuk mengevakuasi. Mobil terpaksa dipindahkan lumayan jauh, untuk memberi jalan bagi backhoe, yang membantu mencari korban yang masih tertimbun.
Seorang warga mengatakan, semalam terjadi tiga kali longsor susulan. Tepat berada di atas mobil yang kuparkir! "Ada bunyi seperti gemuruh. Tapi tidak ada yang mendengar. Saya tidak mau berteriak, karena pasti membuat semua panik," ujar Kaef.
Tanpa dikomando, tim evakuasi yang berasal dari 35 organisasi itu langsung mencari korban yang masih tertimbun. Sekitar pukul 08.15, ditemukan satu jenazah perempuan yang dipenuhi lumpur. Di posko informasi, sebanyak 47 korban hilang, sedangkan hingga hari itu baru 18 orang yang ditemukan. Dua di antaranya belum bisa diidentifikasi.
Hari itu cerah. Deru tiga helikopter yang mengirim logistik, membuat suasana laiknya dalam perang. Belum lagi tangisan keluarga korban. Teriakan para relawan pun membuat ramai.
Merasa cukup mengambil data, aku pun memutuskan untuk kembali sekitar pukul 11.00. Cuaca pun mulai mendung. Dengan kaki masih penuh lumpur, aku pun menancap gas menuju markas dan sampai sekitar pukul 20.00.
Bencana longsor itu, hingga Rabu (3/3) sudah ditemukan sebanyak 32 jenazah. Sedangkan pencarian dihentikan mulai Senin (1/3). Diperkirakan, masih ada 11 jenazah lagi yang masih tertimbun. Karena pencarian dihentikan, lokasi longsor dijadikan kuburan massal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar