Welcome to The Psycho...

"Aku bukan komunis, bukan pula humanis. Aku adalah segalanya, mengungkapkannya dengan menyusun kata per kata.."

05 Maret 2009

Mekanisme Cinta Menurut Proses Kimia

Beberapa hari lalu, saya harus duduk termangu sekaligus confuse dengan istilah-istilah kimia. Selama kurang lebih 5 jam bersama guru-guru SMA bidang studi Biologi dan Kimia dalam Pelatihan Pembelajaran Inovatif. Hanya ada satu topic yang membikin saya tertarik untuk mendengarkan. Apalagi kalau bukan masalah cinta yang dipaparkan melalui proses kimia.

Hal itu dipaparkan seorang akademisi kimia asal Universitas Negeri Yogyakarta. Ia mengatakan, berdasarkan jurnal penelitian di AS, cinta merupakan proses kimia. Ada tiga tahapan mekanisme.

Yang pertama adalah tahap terkesan atau proses hormon feromon, atau yang biasa disebut dengan hormon asmara. Pada tahap ini, ada guncangan perasaan terhadap manusia lain yang kita sukai.

Yang kedua adalah hormon amfetamin. Tahap ini bukan lagi hanya sekadar suka. Tetapi sudah merupakan nafsu, seperti berciuman dan hal-hal yang berbau mesum. Hormon ini akan merangsang kita ke alam bawah sadar. Oleh karena itu, ketika percumbuan terjadi, kita tidak akan puas sebelum menemui klimaks.

Yang terakhir adalah fase pengikatan. Atau dalam istilah kimia terkenal dengan hormon endofin. Di sini tidak ada nafsu diantara kedua manusia. Tetapi perasaan aman dan nyaman. Hal inilah yang berlaku ketika manusia sudah menikah atau akan menikah.

“Oleh karena itu, kita juga harus membedakan sayang dan cinta,” ujarnya. Menurutnya, sayang berlaku berlandaskan bukan atas dasar nafsu. Namun, nafsu akan muncul ketika ada cinta. Nah, hal-hal ini tidak mungkin diperdebatkan karena berdasarkan bersifat ilmiah, bukan atas dasar rasionalisasi belaka.