Perjalanan ke Jakarta pada Sabtu (14/2), membikin saya sedikit tenang. Paling tidak, kesempatan itu saya gunakan untuk sesaat melupakan kompleksitas hidup. Bukan pelarian, tetapi, satu bentuk refleksi mencari pencerahan demi tercapainya pemikiran baru.
Berbagai inspirasi, muncul pada saat dalam perjalanan, bukan dari tempat tujuan. Pada saat itu juga, saya sadar, bahwa saya hidup dan berdiri dalam lingkaran kemunafikkan. Tidak ada yang bisa dipercaya di alam ini. Untungnya, saya sudah tidak pernah mempercayai siapa pun. Tentu sejak pengkhianat-pengkhianat itu berlari dalam kenistaan.
Bualan manusia, menembus fantasi keindahan dunia ini. Apalagi, jika mereka meminjam istilah-istilah religius. Pelacuran diri besar-besaran, sudah menimpa makhluk dunia. Mereka terbuai dengan kamuflase materi dan cinta. Padahal, sebelumnya, mereka menentang secara definitif pemujaan.
Ekspektasi akan kehidupan yang ideal, semakin terkikis. Dominasi eksistensi kemunafikkan telah meruntuhkan impian itu.
"Integritas dan harga dirilah yang menjadikan kita terus bertahan sampai saat ini," ujar seorang kawan, yang juga seorang pemimpin pada satu sore. Menjaga kedua hal itu tidaklah mudah. Hujatan, cacian, dan umpatan, menjadi santapan setiap saat.
Pulang dari Jakarta, ada sedikit motivasi dan amunisi baru. Tentu, dalam menghadapi dan menentang arogansi-arogansi kemunafikkan, yang terlanjur terbentuk di lingkungan sekitar saya berdiri.
Tulisan ini, merupakan respon pribadi atas ungkapan manusia munafik lainnya.
2 komentar:
ooooohhhh....
dimana2 org itu refrsh ke luar kota, selain jkarta, bukannya malah liburan k jkt hohoh
Posting Komentar