Kompas, Edisi Sabtu, 28 Juni 2008
Politik kantor yang sering ditanggapi orang dengan sikap "alergik" pada kenyataanya tidak pernah punah, bahkan merupakan realita. Kita sering tidak bersimpati dengan seseorang yang "sok bener" terutama di depan atasan, bahkan tega "menyingkirkan" semua orang yang dianggap tidak benar, apalagi membahayakan kedudukannya. Ada juga individu yang tidak kita sukai karena ia pandai sekali memanfaatkan "power" dan bisa membuat ketergantungan atasan, atau perusahaan kepadanya, sehingga "timing" yang tepat, ia bisa tunjuk gigi alias bermain dengan bargaining power-nya.
Mengapa situasi "berpolitik" seperti ini menjengkelkan orang-orang yang berada di luar permainan? Menurut ahlinya, politik kantor ini menjadi kelihatan nyata pada lembaga yang kekuatan SDM-nya tidak seimbang, misalnya banyak yang produktif sementara banyak yang bermalas-malasan. Ada istilah "like and dislike" yang muncul karena standar kinerja yang sulit dibuktikan apalagi dihitung., juga job description yang tidak seimbang dan tidak jelas, yang kesemuanya bisa membangkitkan rasa tidak aman dalam bekerja. Politik kantor memang subyektif dan informal, inilah sebabnya hal itu terasa tetapi sulit diraba dan teraga.
Untuk survive di lingkungan organisasi, kita memang perlu kuat dan berakar, serta tahu apa yang kita mau. Kita bisa menyasal hal-hal material, mementingkan karir, kinerja dan peningkatan kompetensi, sementara orang lain ada yang memburu keterlibatannya dalam kelompok tertentu, power atau kontrol terhadap situasi.
Namun, berdiam diri, dan berharap bahwa segala sesuatu akan berjalan sesuai dengan sistem yang ada, memang hampir tidak mungkin. Sepanjang kita bersikap fair, tidak manipulatif dan curang, me-lobby, mempersuasi dan berpolitik memang harus dilakukan. Sikap negatif seperti yang kita kenal misalnya "sistem kodok", menyembah ke atas menendang ke bawah, tentunya adalah gaya yang tidak anggun dan tidak dilakukan orang yang tahu berpolitik dengan baik.
Dari pengamatan ahli, orang-orang kuat dalam perusahaan dan organisasi biasanya memang bukannya tidak berstrategi, mereka juga "politically savvy".
Dalam organisasi apapun, kita hanya bisa eksis bila mempunyai kontribusi yang signifikan. Bila kita amati orang yang pandai me-lobby dan berpolitik, sementara produksinya "kosong", maka orang ini lambat laun tidak bisa meneruskan karirnya. Individu yang produksinya di atas rata-rata tinggal mengasah cara berinteraksi, berapat, mendekati atasan dan orang-orang kunci, serta membuat diri lebih diperhitungkan dengan berusaha lebih bermain fakta, membina hubungan emosional yang sehat, berusaha menonjolkan orang lain tanpa lupa memunculkan diri sendiri. Kontribusi yang sudah kita tunjukkan jangan sampai dikotori dengan mempraktekkan cara gaul murahan seperti bergosip, menekan, menyalahgunakan jabatan, mencari muka tanpa alasan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar